MARPAUNG, Netti Natarida and WAHYUDI, Sugeng and PANGESTUTI, Irene Rini Demi,(5 August 2025), PERAN KREDIT BERBASIS LOAN LOSS PROVISION DALAM MEMEDIASI PENGARUH GREEN BANKING TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi Komparatif pada Bank di Asia Pasifik Emerging dan Developing 2009–2023). , UNSPECIFIED, UNSPECIFIED
Download (226kB)
Download (156kB)
Download (168kB)
Download (191kB)
Download (518kB)
Restricted to Repository staff only
Download (17MB) | Request a copy
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara praktik green banking, yang tercermin dalam penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), dengan nilai perusahaan di sektor perbankan Asia Pasifik. Penelitian ini juga mengusulkan konsep baru, yaitu Kredit berbasis Loan Loss Provision (CLLP), sebagai variabel mediasi yang menghubungkan praktik green banking dengan nilai perusahaan, yang diukur menggunakan rasio Tobin’s Q.
Lembaga keuangan, khususnya perbankan, berperan penting dalam perekonomian dengan menyediakan sumber pendanaan dan mendorong pembangunan berkelanjutan. Praktik green banking yang berfokus pada kebijakan ramah lingkungan semakin diterima sebagai bagian integral dari strategi bisnis perbankan. Meskipun penerapan prinsip ESG diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan, hasil penelitian yang ada masih bervariasi, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam dampak dari green banking terhadap nilai perusahaan dengan memperkenalkan konsep CLLP sebagai mediator.
Penelitian ini berlandaskan pada tiga teori utama: Teori Pandangan Berbasis Sumber Daya (RBV), Teori Stakeholder, dan Teori Legitimasi. RBV menggarisbawahi pentingnya manajemen sumber daya internal perusahaan dalam menciptakan keunggulan kompetitif. Teori Stakeholder menekankan perlunya perusahaan mempertimbangkan kepentingan pemangku kepentingan dalam operasionalnya, sementara teori Legitimasi menunjukkan bahwa pengelolaan yang selaras dengan norma sosial dapat meningkatkan legitimasi perusahaan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data panel tidak seimbang (unbalanced panel), yang menggabungkan dimensi cross-sectional dan time-series. Data diperoleh dari laporan tahunan 249 bank yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik selama periode 2009–2023, dengan total 3.735 observasi tahunan. Variabel utama untuk mengukur praktik green banking terdiri atas Environment Disclosure Score (EDS), Social Disclosure Score (SDS), dan Governance Disclosure Score (GDS) serta Total ESG sebagai representasi dari green banking. Nilai perusahaan diukur menggunakan rasio Tobin's Q, sementara CLLP dihitung sebagai rasio antara total kredit yang disalurkan terhadap Loan Loss Provision (LLP). Metode analisis yang digunakan mencakup regresi panel dengan standar error robust, analisis mediasi dua tahap, serta uji sensitivitas seperti winsorisasi 5 persen dan pemeriksaan diagnostik. Seluruh proses analisis dilakukan dengan perangkat lunak STATA versi 17.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa green banking yang tercermin dalam pengungkapan EDS, SDS, GDS, dan total ESG secara keseluruhan memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan (Tobin’s Q) secara langsung, baik di negara berkembang, negara maju, maupun gabungan. Di sisi lain, CLLP menunjukkan pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan di wilayah negara Asia Pasifik Emerging, tetapi tidak signifikan di wilayah negara Asia Pasifik Developing dan Gabungan. Mediasi CLLP memperkuat hubungan antara pengungkapan EDS, SDS terhadap nilai perusahaan di seluruh kategori. Mediasi CLLP juga memperkuat hubungan GDS di kategori negara maju dan gabungan, namun berdampak negatif signifikan di kategori negara berkembang. Sebaliknya total ESG menunjukkan pengaruh positif signifikan saat dimediasi CLLP pada kategori negara berkembang, tetapi berpengaruh negatif signifikan di kategori negara maju dan gabungan. Hasil yang bervariasi ini menunjukkan bahwa manajemen risiko kredit yang tercermin dalam CLLP berperan penting dalam efektivitas green banking. Analisis nonlinier lebih lanjut mengungkapkan hubungan berbentuk U-terbalik pada beberapa kategori, yang menunjukkan bahwa pengungkapan ESG pada tingkat moderat meningkatkan nilai perusahaan, namun pengungkapan berlebihan justru dapat menurunkannya.
Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi bank, regulator, dan pembuat kebijakan. Bagi bank, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya mengelola risiko kredit secara efektif yang tercermin dalam rasio CLLP yang optimal dalam implementasi green banking, serta merancang kebijakan pengungkapan ESG yang seimbang untuk meningkatkan kinerja keuangan jangka panjang. Bagi regulator, penelitian ini menyarankan pengembangan kebijakan yang mendukung keberlanjutan perbankan dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip ESG dalam manajemen risiko kredit. Secara keseluruhan, keberhasilan green banking dalam meningkatkan nilai perusahaan sangat bergantung pada strategi pengelolaan risiko kredit, dengan CLLP berfungsi sebagai mekanisme utama untuk menjembatani hubungan tersebut.
| Keywords : | Asia-Pacific, Green Banking, ESG (Environmental, Social, and Governance), Credit-based Loan Loss Provision (CLLP), Firm Value, Tobin’s Q, Credit Risk Management, Asia Pasifik, Green Banking, ESG (Environment, Social, and Governance), Kredit berbasis Loan Loss Provision (CLLP), Nilai Perusahaan, Tobin's Q, Manajemen Risiko Kredit |
|---|---|
| Journal or Publication Title: | UNSPECIFIED |
| Volume: | UNSPECIFIED |
| Number: | UNSPECIFIED |
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
| Subjects: | Manajemen |
| Depositing User: | Netti Natarida Marpaung |
| Date Deposited: | 07 Oct 2025 05:36 |
| Last Modified: | 07 Oct 2025 05:36 |
| URI: | https://repofeb.undip.ac.id/id/eprint/17270 |


