PEMANFAATAN SUPERVISORY TECHNOLOGY UNTUK MENDUKUNG ANALISIS KONSENTRASI RISIKO DI OTORITAS JASA KEUANGAN

PARDIYONO, Pardiyono and HADIPRAJITNO, Basuki,(19 June 2026), PEMANFAATAN SUPERVISORY TECHNOLOGY UNTUK MENDUKUNG ANALISIS KONSENTRASI RISIKO DI OTORITAS JASA KEUANGAN. , UNSPECIFIED, UNSPECIFIED

[thumbnail of Cover] Text (Cover) - Published Version
Download (213kB)
[thumbnail of Abstrak (Inggris)] Text (Abstrak (Inggris)) - Published Version
Download (303kB)
[thumbnail of Abstrak (Indonesia)] Text (Abstrak (Indonesia)) - Published Version
Download (312kB)
[thumbnail of Daftar Isi] Text (Daftar Isi) - Published Version
Download (373kB)
[thumbnail of Daftar Pustaka] Text (Daftar Pustaka) - Published Version
Download (266kB)
[thumbnail of Fulltext PDF Bookmarks] Text (Fulltext PDF Bookmarks)
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Dalam rangka melaksanakan fungsinya untuk menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan, OJK telah menetapkan aturan yang mewajibkan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) maupun Emiten dan Perusahaan Publik (EPP) untuk menyampaikan laporan kepada OJK, antara lain terkait penerimaan dana dan penyaluran dana. Penerimaan dana oleh LJK atau EPP dapat bersumber dari tabungan-giro-deposito (khusus untuk perbankan), pinjaman dari LJK/pihak lain, atau penerbitan surat utang. Penyaluran dana dapat melalui pemberian kredit oleh perbankan/perusahaan pembiayaan, melalui penempatan dana pada giro-depositotabungan perbankan, atau melalui pembelian surat utang yang diterbitkan oleh pihak lain. Krisis Indonesia tahun 1998 memberikan pelajaran berharga bahwa tekanan terhadap bank dapat diperburuk oleh keterkaitan bank dengan kelompok usaha, termasuk praktik connected lending dan konsentrasi eksposur. Selain itu, dalam beberapa dekade terakhir, risiko konsentrasi semakin relevan seiring dengan meningkatnya kompleksitas pasar keuangan dan ketidakpastian ekonomi global. Krisis keuangan 2008, misalnya, memperlihatkan bagaimana konsentrasi kredit pada sektor properti dapat memicu krisis sistemik. Melalui penelitian ini, Penulis melakukan identifikasi praktik analisis data oleh pengawas yang telah berlangsung saat ini dan mengusulkan perbaikan proses kerja melalui pengembangan teknik analisis konsentrasi risiko yang berupa exposure pinjaman kelompok debitur besar yang digabungkan dengan analisis penerimaan dana dari kelompok-kelompok tersebut. Penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif yang melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan yang berasal dari kegiatan pengumpulan data potensial, yaitu dengan wawancara, observasi, dan mengumpulkan data seperlunya dari dokumen-dokumen. Berdasarkan penelitian Penulis, Pengawas OJK sangat membutuhkan analisis konsentrasi risiko yang menggabungkan antara penerimaan dana dan penyaluran dana, tidak hanya terhadap satu LJK dari/ke nasabah tertentu tetapi juga terhadap beberapa LJK dari/ke sekelompok nasabah. Proses analisis yang cukup kompleks tersebut masih dilakukan secara manual, sendiri-sendiri oleh masing-masing pengawas LJK/KK sehingga proses dan kualitas hasilnya tidak seragam. Selain itu, pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan oleh seorang pengawas tidak dapat diberikan kepada pengawas lain karena dokumentasi proses kerja yang dilakukan dan lessons learned yang diperoleh pengawas tidak tersedia. Dengan mengimplementasikan Supervisory Technology (suptech), OJK tidak hanya meningkatkan efektifitas pengawasan, namun juga mentransformasi knowledge pengawasan dari tacit knowledge berupa pengalaman/pemahaman pribadi seseorang menjadi explicit knowledge yang terdokumentasi di dalam system dan dapat dengan mudah dipelajari oleh orang lain. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan mengenai pengembangan model operasi terbaik, khususnya terkait proses identifikasi dan pengawasan konsentrasi risiko kredit di sektor jasa keuangan, termasuk pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses tersebut. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan bukti bahwa tacit knowledge yang ada di pikiran dan benak seseorang berupa pengalaman dan/atau pemahaman, dapat ditransformasikan menjadi explisit knowledge, yaitu pengetahuan yang terstruktur, mudah didokumentasikan, dan dapat dijelaskan dengan bahasa formal.
Keywords : supervisory technology, suptech, risk concentration, tacit knowledge, explicit knowledge, business process imprevement., supervisory technology, suptech, konsentrasi risiko, tacit knowledge, explicit knowledge, perbaikan proses bisnis.
Journal or Publication Title: UNSPECIFIED
Volume: UNSPECIFIED
Number: UNSPECIFIED
Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: Manajemen
Depositing User: Pardiyono Pardiyono
Date Deposited: 01 Jul 2026 15:24
Last Modified: 01 Jul 2026 15:24
URI: https://repofeb.undip.ac.id/id/eprint/18600

Actions (login required)

View Item
View Item