ARDIANSYAH, Rafi and HASYA, Afina,(7 July 2026), ECONOMIC DIPLOMACY FOR MARKET DEVELOPMENT: THE ROLE OF THE INDONESIAN EMBASSY IN THE NETHERLANDS IN INCREASING INDONESIAN CACAO, COFFEE, AND CIGAR EXPORTS. , UNSPECIFIED, UNSPECIFIED
Download (136kB)
Download (106kB)
Download (171kB)
Download (162kB)
Download (370kB)
Restricted to Repository staff only
Download (2MB) | Request a copy
Abstract
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil utama kakao, kopi, dan tembakau, sedangkan Belanda berperan sebagai pusat perdagangan dan pintu masuk komoditas ke pasar Uni Eropa. Meskipun memiliki kapasitas produksi dan kualitas yang kompetitif, ekspor Indonesia ke pasar Belanda masih belum optimal akibat keterbatasan visibilitas produk, fragmentasi rantai pasok, persaingan negaraeksportir, hambatan regulasi, dan kesenjangan informasi pasar. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag dalam diplomasi ekonomi serta merumuskan strategi peningkatan ekspor kakao, kopi, dan cerutu Indonesia di pasar Belanda. Penelitian menggunakan
pendekatan mixed-method dengan desain eksploratif dan deskriptif. Data kuantitatif diperoleh dari UN Comtrade, CBS, ITC, Kementerian Perdagangan, dan sumber terkait untuk menganalisis perdagangan periode 2019–2024 berdasarkan nilai, volume, neraca perdagangan, dan pangsa pasar. Data kualitatif diperoleh melalui studi dokumen dan wawancara semi-terstruktur dengan KBRI dan eksportir Indonesia. Analisis menggunakan kerangka diplomasi ekonomi Bayne dan
Woolcock, tipologi promosi ekspor Lederman et al., Porter’s Five Forces, SWOT, serta benchmarking terhadap Vietnam, Ghana, dan Republik Dominika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki kehadiran di pasar Belanda, tetapi kinerjanya masih di bawah potensi. Ekspor kakao Indonesia mencapai USD 38,45 juta pada 2023 dibandingkan impor Belanda sebesar USD 2,19 miliar, sementara ekspor kopi Indonesia sekitar 5.000 ton, jauh di bawah Vietnam sebesar 46.000 ton. Visibilitas cerutu Indonesia juga masih terbatas. KBRI menghadapi kendala berupa belum adanya ITPC di Belanda, ketiadaan unit khusus komoditas, koordinasi promosi yang belum optimal, dan belum adanya sistem pemantauan hasil promosi. Peluang utama terdapat pada specialty coffee, bean-tobar cacao, premium cigar, dan tembakau Besuki.
| Keywords : | Economic Diplomacy, Indonesian Embassy in The Hague, Export Promotion, Cocoa, Coffee, Cigars, Dutch Market., Diplomasi Ekonomi, KBRI Den Haag, Promosi Ekspor, Kakao, Kopi, Cerutu, Pasar Belanda. |
|---|---|
| Journal or Publication Title: | UNSPECIFIED |
| Volume: | UNSPECIFIED |
| Number: | UNSPECIFIED |
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
| Subjects: | Manajemen |
| Depositing User: | Rafi Ardiansyah |
| Date Deposited: | 03 Sep 2026 07:26 |
| Last Modified: | 03 Sep 2026 07:28 |
| URI: | https://repofeb.undip.ac.id/id/eprint/18805 |


